Sabtu, 28 Februari 2015

puisi



A.    CHAIRIL ANWAR
Chairil Anwar ( Medan, 26 Juli 1922 – Jakarta, 28 April 1949) atau dikenal sebagai “ Si Binatang Jalang “ (dalam karyanya yang berjudul “Aku”). Chairil Anwar adalah penyair terkemuka di Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B.Jassin sebagai pelopor Angkaatan ’45 dan puisi modern Indonesia.
Masa kecil Chairil Anwar ialah beliau dilahirkan di Medan. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, yang bekerja sebagai pamong praja. Dari pihak ibunya, Saleha dia masih punya hubungan atau pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia.
Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada waktu penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia Sembilan belas tahun, setelah perceraian orang tuanya, chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman. Chairil mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti : Rainer M.Rike, W.H.Auden, Archibald Macleish, H.Marsman, J.Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusastraan Indonesia.
Pada masa dewasa Chairil Anwar, nama Chairil Anwar mulai terkenal dalamdunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “ Majalah Nisan “ pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga yang di ciplak, dikomplikasi dalam tiga buku :
-          Deru Campur Debu (1949)
-          Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
-          Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin )
Akhir hidup dari Chairil Anwar adalah vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.
B.      Puisi (Hasil Karya Tulis )
Chairil Anwar menulis 75 puisi, 7 prosa, dan 3 koleksi puisi. Beliau menerjemahkan 10 puisi dan 4 prosa. Kebanyakan puisi-puisi asli Chairil dimasukkan dalam versi koleksinya:
-          Deru Campur Debu
-          Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus
-          Tiga Menguak Takdir
Puisi-puisi Chairil Anwar dianggap multitafsir, salah satunya ialah puisi yang berjudul “Aku”.
C.    Makna puisi “Aku”
*      Bait pertama: Rasa yakin atau keyakinan pengarang yang sangat kuat dan tekadnya yang sudah bulat terhadap apa yang diyakininya sehingga tidak akan bisa dirayu oleh seorangpun atau siapapun.
*      Bait kedua: Penulis ( pengarang ) tidak akan tergoyahkaan tekadnya meskipun dirayu dengan cara apapun.
*      Bait ketiga: pengarang mengakui bahwa dirinya bukanlah sesuatu yang penting maka ia tidak perlu dibujuk atau dirayu oleh seorangpun.
*      Bait keempat dan kelima: pengarang menggambarkan bahwa keyakinan dan tekadnya sudah sangat bulat. Meski beribu-ribu rintagan dan halangan menghadang, tetapi pengarang tetap memegang teguh kuat pendiriannya dan tekadnya.
*      Bait keenam dan ketujuh: pengarang menekankan bahwa dirinya tidaka peduli dengan semua rintangan yang dia hadapi pada waktu itu. Pengarang sangatlah tangguh dalam memegang prinsip dan pedomannya.
Definisi puisi
Puisi adalah seni tertulis di ana bahasa yang digunakan untuk kualitas estetiknya untuk kualitas tambahan atau selain arti semantiknya. Puisi ini juga merupakan gabungan dari pilihan kata yang indah, di mana jika digabungkan akan membentuk suatu bait-bait yang indah bermakna.
Unsur-unsur pembuatan puisi
-          Perwajahan puisi atau tipografi
-          Diksi ( pemilihan kata )
-          Imaji ( pengalaman indrawi )
-          Kata konkret (kata yang dapat ditangkap dengan indra )
-          Gaya bahasa atau majas
-          Rima atau irama
-          Tema
-          Rasa ( feeling )
-          Nada (tone)
Macam-macam puisi
-          Puisi lama :  mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, talibun, dsb.
-          Puisi baru  :  balada, himne, ode, epigram, romansa, elegi, dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar