HARAPAN DI TAHUN BARU
Pada tanggal 31
Desember 2014, aku dan kedua adikku beranjak dari rumah untuk pergi ke rumah
sang nenek. Kami berangkat dari rumah pukul 18.00 WIB. Kami berangkat diantar
oleh bapak. Sesampainya di rumah nenek, aku pun memiliki rasa senang dan juga
sedih. Mengapa? Ya hal ini di karenakan akan berakhirnya tahun 2014 dan dalam
pergantian tahun tersebut, masyarakat Indonesia sedang banyak tertimpa musibah.
Musibah diantaranya tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara dan juga
jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di perairan dekat pangkalan bun. Dengan adanya berbagai bencana tersebut,
apakah kita sebagai orang yang bisa terhindar dari bencana tersebut akan
bersenang-senang di atas penderitaan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa
musibah tersebut.
Hal yang harus kita
lakukan ialah bersyukur kepada Allah atas terhindarnya dari marabahaya dan juga
kita harus wajib mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah
agar selalu tabah dan tawakkal dalam menghadapinya. Pergantian tahun ini paling
banyak harapan yang harus dicapai. Harapan seseorang untuk dirinya, pasti
harapan yang baik dan sangatlah baik.
Dengan adanya tahun baru, maka kita juga harus memiliki jiwa baru,
perilaku baru, akhlak baru. Maksudnya ialah dalam pergantian tahun kita harus
merubah sikap kita menjadi sikap yang lebih baik dan tidak pernah mengecewakan
orang lain.
Adapun harapan saya di
tahun yang baru ini, adalah :
-
Lebih
berbakti kepada kedua orang tua
-
Merubah
sifat buruk yang ada dalam diri saya menjadi sifat yang lebih baik
-
Berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam study
-
Mendapatkan
nilai bahasa indonesia 85 keatas
Setiap
tahun berganti berarti berkurangnya umur seseorang. Bagi akal dan jiwa yang
sehat, jika umur yang dikurangi pasti akan bersedih, merenung, intropeksi,
evaluasi, prihatin serta lebih berhati-hati dalam melangkah. Sangat aneh jika
seseorang tahu bahwa umurnya berkurang malah jingkrak-jingkrak, tertawa senang,
joged-joged, meniup teropet, nyalain kembang api sana sini, dan lain
sebagainya. Kalau perlu kita periksa kesehatan akal dan jiwa, sehingga selalu
terjaga dari segala perbuatan dan tindakan yang irrasional.
Allah
berfirman : “Janganlah
kamu ikut-ikutan terhadap segala sesuatu yang belum kamu miliki pengetahuannya,
karena sesungguhnya pendengaran, penghlihatan dan hati akan diminta pertanggung
jawabannya.” ( Q.S. Al-Isra’ (17) ayat : 36 )
Ada
beberapa hal yang menjadi bahan renungan setiap mengakhiri tahun, agar kita
mampu mempertanggung jawabkan akal fikiran serta jiwa kita dihadapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala
senantiasa menyuruh kita berbuat dan bertindak Rasional, mengembangkan
kreatifitas positif. Segudang kalimat perintah untuk mengaktifkan akal fikiran
kita dalam Al-Qur’an bisa kita jumpai, misalnya “Apakah mereka tidak berfikir”,
“Apakah kamu tidak memakai otak”, “Apakah kamu tidak memperhatikan”, “Apakah
kamu tidak mentadabburkan” , “Apakah kamu tidak berjalan dimuka bumi kemudian
perhatikan” dan sebagainya.
Perilaku
irrasional yang bertentangan dengan akal dan jiwa yang sehat, tetapi jika
dikemas sedemikian rupa dengan gebyar iklannya serta dilakukan banyak orang,
bisa mematikan akal sehat. Sekedar contoh mengekspresikan kegembiraan lulus
sekolah dengan corat-coret baju, jelas-jelas irrasional dan jaka sembung naik
ojek. Faktanya dilakukan oleh hampir seluruh siswa, bahkan ada oknum guru yang
ikut menandatangi di baju muridnya dengan spidol.
Begitu
juga kalo ada orang dewasa meniup lilin pada kue ulang tahun, kemudian diberikan
tepuk tangan? Di mana hebatnya? Biasanya tepuk tangan mengiringi prestasi,
terus hebatnya dimana orang dewasa niup lilin? Kalau dijadikan simbol batas
bertambahnya usia, lalu apa hubungannya batas usia dengan lilin? Nah loh makin
banyak kebingungan jika kita mau bertanya kepada akal dan jiwa yang sehat.
Sebentar
lagi kita akan menyaksikan di penghujung akhir tahun tengah malam orang-orang
yang secara masal melakukan perbuatan dan tindakan irrasional, mulai dari
jingkrak-jingkrak, menyanyi, berjoged, bakar kembang api, trek-trekan, konvoi
malam, sampai kepada pergaulan bebas. Saat itu akal dan jiwa yang sehat semakin
terkekang karena gebyar malam tahun baru didukung oleh media informasi yang
sedemikian meriahnya.
Jika
akal dan fikiran sehat sudah terkekang maka yang terjadi adalah nafsu semakin
liar, buas, ganas, semakin tak terkendali. Mudah-mudahan kita masih punya
akal sehat, jiwa bersih, fikiran kritis, sehingga kita mampu menangkap fenomena
dan fakta apa yang sedang terjadi sesungguhnya. Mudah mudahan pula kita masih
punya kekuatan untuk bisa berkorban apa saja dari segala yang kita miliki, demi
keutuhan dan keselamatan keluarga kita. Aamiin..