Rabu, 14 Januari 2015



HARAPAN DI TAHUN BARU
Pada tanggal 31 Desember 2014, aku dan kedua adikku beranjak dari rumah untuk pergi ke rumah sang nenek. Kami berangkat dari rumah pukul 18.00 WIB. Kami berangkat diantar oleh bapak. Sesampainya di rumah nenek, aku pun memiliki rasa senang dan juga sedih. Mengapa? Ya hal ini di karenakan akan berakhirnya tahun 2014 dan dalam pergantian tahun tersebut, masyarakat Indonesia sedang banyak tertimpa musibah. Musibah diantaranya tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara dan juga jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di perairan dekat pangkalan bun.  Dengan adanya berbagai bencana tersebut, apakah kita sebagai orang yang bisa terhindar dari bencana tersebut akan bersenang-senang di atas penderitaan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah tersebut.
Hal yang harus kita lakukan ialah bersyukur kepada Allah atas terhindarnya dari marabahaya dan juga kita harus wajib mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah agar selalu tabah dan tawakkal dalam menghadapinya. Pergantian tahun ini paling banyak harapan yang harus dicapai. Harapan seseorang untuk dirinya, pasti harapan yang baik dan sangatlah baik.  Dengan adanya tahun baru, maka kita juga harus memiliki jiwa baru, perilaku baru, akhlak baru. Maksudnya ialah dalam pergantian tahun kita harus merubah sikap kita menjadi sikap yang lebih baik dan tidak pernah mengecewakan orang lain.
Adapun harapan saya di tahun yang baru ini, adalah :
-          Lebih berbakti kepada kedua orang tua
-          Merubah sifat buruk yang ada dalam diri saya menjadi sifat yang lebih baik
-          Berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam study
-          Mendapatkan nilai bahasa indonesia 85 keatas
Setiap tahun berganti berarti berkurangnya umur seseorang. Bagi akal dan jiwa yang sehat, jika umur yang dikurangi pasti akan bersedih, merenung, intropeksi, evaluasi, prihatin serta lebih berhati-hati dalam melangkah. Sangat aneh jika seseorang tahu bahwa umurnya berkurang malah jingkrak-jingkrak, tertawa senang, joged-joged, meniup teropet, nyalain kembang api sana sini, dan lain sebagainya. Kalau perlu kita periksa kesehatan akal dan jiwa, sehingga selalu terjaga dari segala perbuatan dan tindakan yang irrasional.
Allah berfirman : “Janganlah kamu ikut-ikutan terhadap segala sesuatu yang belum kamu miliki pengetahuannya, karena sesungguhnya pendengaran, penghlihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya.” ( Q.S. Al-Isra’ (17) ayat : 36 )
Ada beberapa hal yang menjadi bahan renungan setiap mengakhiri tahun, agar kita mampu mempertanggung jawabkan akal fikiran serta jiwa kita dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menyuruh kita berbuat dan bertindak Rasional, mengembangkan kreatifitas positif. Segudang kalimat perintah untuk mengaktifkan akal fikiran kita dalam Al-Qur’an bisa kita jumpai, misalnya “Apakah mereka tidak berfikir”, “Apakah kamu tidak memakai otak”, “Apakah kamu tidak memperhatikan”, “Apakah kamu tidak mentadabburkan” , “Apakah kamu tidak berjalan dimuka bumi kemudian perhatikan” dan sebagainya.
Perilaku irrasional yang bertentangan dengan akal dan jiwa yang sehat, tetapi jika dikemas sedemikian rupa dengan gebyar iklannya serta dilakukan banyak orang, bisa mematikan akal sehat. Sekedar contoh mengekspresikan kegembiraan lulus sekolah dengan corat-coret baju, jelas-jelas irrasional dan jaka sembung naik ojek. Faktanya dilakukan oleh hampir seluruh siswa, bahkan ada oknum guru yang ikut menandatangi di baju muridnya dengan spidol.
Begitu juga kalo ada orang dewasa meniup lilin pada kue ulang tahun, kemudian diberikan tepuk tangan? Di mana hebatnya? Biasanya tepuk tangan mengiringi prestasi, terus hebatnya dimana orang dewasa niup lilin? Kalau dijadikan simbol batas bertambahnya usia, lalu apa hubungannya batas usia dengan lilin? Nah loh makin banyak kebingungan jika kita mau bertanya kepada akal dan jiwa yang sehat.
Sebentar lagi kita akan menyaksikan di penghujung akhir tahun tengah malam orang-orang yang secara masal melakukan perbuatan dan tindakan irrasional, mulai dari jingkrak-jingkrak, menyanyi, berjoged, bakar kembang api, trek-trekan, konvoi malam, sampai kepada pergaulan bebas. Saat itu akal dan jiwa yang sehat semakin terkekang karena gebyar malam tahun baru didukung oleh media informasi yang sedemikian meriahnya.
Jika akal dan fikiran sehat sudah terkekang maka yang terjadi adalah nafsu semakin liar, buas, ganas, semakin tak terkendali. Mudah-mudahan kita masih punya akal sehat, jiwa bersih, fikiran kritis, sehingga kita mampu menangkap fenomena dan fakta apa yang sedang terjadi sesungguhnya. Mudah mudahan pula kita masih punya kekuatan untuk bisa berkorban apa saja dari segala yang kita miliki, demi keutuhan dan keselamatan keluarga kita. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar